Mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis STAIDA Lakukan Penelitian Kajian Hadis di Berbagai Pesantren

ADMIN Jumat, 26 Juni 2026 14:12 WIB
135x ditampilkan Laporan Khusus Penelitian Berita

Mahasiswa semester IV Program Studi Ilmu Hadis Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA) Bangkalan melaksanakan penelitian lapangan tentang kajian hadis di berbagai pondok pesantren selama Semester Genap Tahun Akademik 2025–2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas akademik yang bertujuan memperkenalkan mahasiswa pada tradisi pembelajaran hadis yang berkembang di lingkungan pesantren sekaligus melatih kemampuan penelitian lapangan.

Penelitian dilaksanakan di sejumlah pondok pesantren yang memiliki karakteristik dan metode pembelajaran berbeda-beda, di antaranya Pondok Pesantren Nurus Sholeh, Pondok Pesantren Ar-Raudloh Bangkingan Surabaya, Pondok Pesantren Darul Hikmah Bangkalan, dan Pondok Pesantren Al-Hikam Burneh Bangkalan. Melalui penelitian tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengamati perkembangan kajian hadis di pesantren, mulai dari metode pembelajaran, kitab yang digunakan, hingga implementasi nilai-nilai hadis dalam kehidupan santri.

Mahasiswa-mahasiswa tersebut antara lain; Hani’ Rahmania, Muzayyanah Riya, Nurul Arifah, Nurul Hidayati, Nurul Ulfawiyah, dan Siti Humairok di Pondok Pesantren Darul Hikmah Bangkalan; Huril Aini, Imelda Afkarina, Nadiatul Khoiroh, Nor Aini, Noril, dan Risqi Amalia di Pondok Pesantren Al-Hikam Burneh Bangkalan; Khatiful Umam, Moh. Hasan, Muhammad Nasiruddin, Musleh Maulana dan Nurul Iman di Pondok Pesantren Ar-Raudloh Bangkingan Surabaya dan; Abdullah, Ikrom Maulana, Juma`adi dan Lukman di Pondok Pesantren Nurus Sholeh.

Mereka melakukan observasi, wawancara, serta dokumentasi di lokasi penelitian masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap pesantren memiliki keunikan tersendiri dalam mengembangkan tradisi kajian hadis sesuai dengan visi pendidikan yang dianut.

Di Pondok Pesantren Nurus Sholeh, mahasiswa menemukan bahwa tradisi kajian hadis masih dijaga dengan sangat baik melalui penggunaan kitab-kitab hadis seperti Riyadhus Shalihin, Al-Arba'in al-Nawawiyah, Bulughul Maram, dan Mukhtar al-Hadis. Para santri dibimbing melalui metode talaqqi, syarah, dan diskusi ilmiah untuk memahami hadis secara mendalam. Selain itu, pesantren ini dikenal memiliki tenaga pengajar yang sebagian berasal dari Timur Tengah sehingga kualitas pengajaran kitab klasik dan penguasaan bahasa Arab mendapatkan perhatian yang serius. Sistem pembelajaran tradisional seperti wetonan dan talaqqi juga tetap dipertahankan sebagai bagian dari tradisi keilmuan pesantren.

Sementara itu, penelitian di Pondok Pesantren Ar-Raudloh Bangkingan Surabaya menunjukkan bahwa kajian hadis dipadukan dengan berbagai aktivitas pengembangan diri santri. Selain mempelajari kitab hadis seperti Arba'in al-Nawawi, para santri juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi ciri khas pesantren, seperti memanah, pacuan kuda, dan berbagai kegiatan olahraga lainnya. Kegiatan tersebut dipandang sebagai bentuk implementasi nilai-nilai hadis dalam membentuk karakter santri yang sehat, disiplin, dan tangguh.

Penelitian di Pondok Pesantren Darul Hikmah Bangkalan memberikan temuan menarik terkait pengembangan kemandirian ekonomi pesantren. Selain kegiatan kajian hadis, pesantren ini juga mengembangkan berbagai unit usaha produktif yang melibatkan santri. Salah satunya adalah produksi rokok yang dipasarkan di lingkungan internal pesantren sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan dan penguatan ekonomi lembaga.

Adapun di Pondok Pesantren Al-Hikam Burneh Bangkalan, mahasiswa menemukan model pendidikan yang memadukan sistem sekolah formal dan kepesantrenan secara harmonis. Santri putra dan putri menempuh pendidikan formal dalam satu kompleks pendidikan dengan tetap menerapkan aturan dan pengawasan yang ketat. Menariknya, meskipun sistem pendidikan berlangsung dalam lingkungan yang sama, mahasiswa tidak menemukan budaya pergaulan bebas ataupun praktik pacaran di kalangan santri. Sebaliknya, budaya disiplin, penghormatan kepada guru, serta pengamalan nilai-nilai hadis menjadi bagian yang sangat dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, mahasiswa juga mengamati bahwa budaya kebersihan di Pondok Pesantren Al-Hikam mendapat perhatian khusus. Nilai-nilai hadis tentang kebersihan diterapkan secara nyata dalam kehidupan santri, mulai dari kebersihan kamar, kelas, masjid, hingga lingkungan pesantren secara keseluruhan. Bahkan pengelola pesantren menjadikan kebersihan sebagai salah satu implementasi praktis dari ajaran hadis dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Program Studi Ilmu Hadis STAIDA, Ibu Fatichatus Sa’diyah, S.Th.I., M.Ag., menyampaikan bahwa penelitian lapangan semacam ini penting untuk mempertemukan teori yang dipelajari mahasiswa di ruang kuliah dengan realitas yang berkembang di tengah masyarakat dan lembaga pendidikan Islam.

"Mahasiswa Ilmu Hadis tidak cukup hanya memahami teori hadis di dalam kelas. Mereka juga perlu melihat bagaimana hadis dikaji, diajarkan, dan diamalkan dalam kehidupan nyata di pesantren. Melalui penelitian ini, mahasiswa belajar menghargai keragaman metode pembelajaran hadis sekaligus memahami kontribusi pesantren dalam menjaga tradisi keilmuan Islam," ujarnya.

Melalui kegiatan penelitian tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga mendapatkan wawasan baru tentang berbagai model pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan Program Studi Ilmu Hadis STAIDA sekaligus menjadi bahan pengembangan penelitian pada masa mendatang.

Kegiatan ini menunjukkan komitmen STAIDA Bangkalan dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman akademik yang aplikatif, sehingga mampu menghubungkan kajian hadis dengan realitas sosial, pendidikan, dan budaya yang berkembang di masyarakat.